Friday, January 13, 2017

Logo HKBP 2017 : Tahun Pendidikan Dan Pemberdayaan

Latar Belakang
Logo tahun Pendidikan dan Pemberdayaan HKBP 2017 terinspirasi dari kisah Nommensen saat datang ke tanah Batak dan meminta ijin pada raja Pontas Lumbantobing untuk tinggal dan bekerja sebagai misionaris di Rura Silindung.
Saat itu Raja Pontas Lumbantobing bertanya, “apakah keuntungan dari kami jika kami menjadi anak bagi Tuhan?”. Nommensen adalah seorang figur yang menyebarkan ajaran Kristen secara kenosis dengan pendekatan dialektikal pada budaya Batak dalam ajaran teologia. Ia tidak hanya menceritakan sejarah umat Kristen dari Perjanjian Lama dalam kisah bangsa Israel, namun juga mengimplementasikan ajaran Kristen dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak dengan tidak mengubah tatanan budaya dan kearifan lokal masyarakat Batak.
Sehingga, saat itu jawaban Nommensen adalah ia ingin memajukan bangsa Batak, tidak lagi terbelakang melainkan menjadi bangsa yang besar secara pendidikan, kesehatan, moral di bawah naungan kepandaian dan kebijaksanaan yang didapat dari Tuhan — “Habisuhon dohot hapistaran dibagasan Tondi”.
Kemajuanlah yang ingin diterapkan dalam pribadi masyarakat Batak. Dalam kondisi apapun, bangsa Batak tetap berpegang teguh pada demokrasi budaya, beradat dalam menentukan kebijaksanaan, berjuang sekeras mungkin demi melakukan yang terbaik dan yang dicita-citakan. Semua itu berasal atas kepercayaan dan keyakinan yang diperoleh dari kekuasaan Tuhan.
Bangsa Batak menjadi bangsa yang besar karena penerapan pada kepribadian bangsa Batak. Kristen yang otentik tanpa menghilangkan akar “Habatahon”. Maka logo ini adalah persatuan antara tradisi dan gereja yang juga telah menjadi warisan yang ditinggalkan oleh Ompui Nommensen.
Bentuk dan Warna
Bentuk dasar logo diambil dari salah satu jenis gorga Batak, yaitu gorga singa-singa. Gorga adalah ukiran tradisional yang terdapat di dinding rumah bagian luar dan bagian depan dari rumah-rumah adat Batak [1]. Gorga singa-singa dipakai di rumah untuk menandakan bahwa rumah yang dibangun adalah milik seorang yang berwibawa dan dibangun sendiri dengan sekuat tenaga.
Maknanya, pada tahun 2017 ini setiap masyarakat Batak mampu berjuang dan mendapat kesempatan menjadi rumah bagi dirinya sendiri, membangun dan memberdayakan diri di berbagai aspek kehidupan sehingga menjadi pribadi yang utuh, berwibawa, bijaksana, berguna bagi dirinya sendiri, bagi khalayak banyak dan bagi Tuhan. Inilah orientasi dan sasaran pelayanan HKBP pada tahun 2017 ini yaitu Pendidikan dan Pemberdayaan [2].
Dua simbol berbentuk matahari adalah gorga Simataniari. Delapan segitiga yang mengelilinginya adalah arah mata angin. Bentuk segitiga yang serupa berarti bangsa Batak tersebar ke segala penjuru dan menjadi terang di setiap tempat bernaung dan berdedikasi. Bentuk yang ada di tengah-tengah adalah simbol Protestan yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti Kristus (red: mungkin yang dimaksud adalah simbol Chi Rho yang dipakai masyarakat Kristen sejak pemerintahan kaisar Romawi Konstantinus I [3]).
Warna merah “narara” berasal dari warna utama gorga Batak sedangkan warna biru diambil dari lambang gereja HKBP.
Sumber [4]
[1] https://tanobatak.wordpress.com/2007/06/07/ruma-gorga-batak/
[2]http://hkbp.or.id/index.php/2017/01/12/orientasi-pelayanan-hkbp-2017-pendidikan-dan-pemberdayaan/
[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Simbol_Kristen
[4] lihat juga dalam http://horong123.com/2017/01/logo-tahun-pendidikan-dan-pemberdayaan-hkbp-2017/

No comments:

Post a Comment