https://drive.google.com/file/d/1AQxe-fdpQAkyD60ADFHPEJYD1LVTl9FY/view?usp=sharing
Thursday, August 27, 2020
Sunday, January 14, 2018
“Roh Kudus menguatkan orang percaya.” (Keluaran 19 : 2-8a)
“Roh Kudus menguatkan orang percaya.” (Keluaran
19 : 2-8a)
Gunung
Sinai adalah tempat yang sangat penting dalam perjalanan orang Israel keluar
dari perbudakan di Mesir oleh tangan TUHAN yang kuat. Di sini TUHAN menetapkan
perjanjianNya dengan mereka. Perjanjian tersebut merupakan perluasan dari
perjanjian TUHAN dengan Abraham dan keturunannya. (lih. Kej. 15:6, 18; 17:7;
22:18) Perjanjian ini merumuskan syarat-syarat yang dengannya Israel akan tetap
menjadi milik TUHAN, terus tinggal di dalam berkatNya dan melaksanakan
kehendakNya bagi bangsa itu. (lih. Kej. 12:2-3; 26:4) TUHAN bermaksud agar
Israel menjadi yang unik, terpilih dan terpisah untuk TUHAN. Umat Israel harus
menanggapi dengan ketaatan dan rasa syukur kepadaNya serta berusaha memelihara
perintah-perintah yang ada. Apabila mereka setia dengan perjanjian ini mereka
akan tetap menjadi umat TUHAN yang khusus.
Di
gunung ini TUHAN menyatakan maksud dan tujuanNya dalam membebaskan orang Israel
dari perbudakan. Lebih daripada sekedar pembebasan bersifat politis dan memberikan
tanah untuk tempat tinggal, TUHAN mempunyai tujuan yang jauh lebih besar. Pembebasan
dari Mesir adalah dalam rangka menggenapi janjiNya kepada mereka sebagai umat
perjanjian. Hal itu menunjukkan bahwa TUHAN tidak melupakan janjiNya sekalipun
waktu sudah berlalu begitu lama. Namun bagaimanapun penggenapan janji itu tetap
menuntut ketaatan mereka. “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku…,
maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku…” (ay. 5) Mereka menjadi umat
kesayangan TUHAN hanya apabila mereka taat pada firmanNya. Atas hal ini orang
Israel menjawab: “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.” (ay. 8a) Jawaban
ini merupakan ekspresi Iman mereka kepada TUHAN. Iman yang akan dinyatakan
dalam ketaatan dan kesetiaan. Hal ini mengingatkan kita pada tanggapan Abraham
saat TUHAN berfirman kepadanya. Setelah Abraham berumur hampir 100 tahun dan
isterinya Sarah sudah tertutup rahimnya, TUHAN berfirman bahwa ia akan
memperoleh anak. Abraham percaya akan firman ini. Hal ini diperhitungkan
kepadanya sebagai kebenaran. Lalu atas dasar iman inilah TUHAN mengadakan
perjanjian dengan Abraham bahwa kepada keturunannyalah akan diberikan tanah
Kanaan. Kesediaan Abraham membuat perjanjian dengan TUHAN menunjukkan imannya.
Demikianlah halnya dengan orang Israel sebagai keturunan Abraham dalam nats
ini. Mereka berjanji akan melaksanakan firman TUHAN. Hal ini mencerminkan iman
mereka kepada TUHAN.
Demikianlah juga dengan umat Tuhan saat ini.
Kesetiaan dan ketaatan pada firmanNya menunjukkan seberapa besar iman percaya
kita kepadaNya. Tuhan telah memilih kita menjadi harta kesayanganNya. Hal itu
nyata dalam Yesus Kristus. Dia telah mati bagi kita justru pada saat kita masih
berdosa. (Rm. 5:8) Melalui perbuatanNya itu kita telah ditebus dari perbudakan
dosa. Setelah dibebaskan, kini kita sedang berada di “gunung Sinai,” suatu
tempat dimana Tuhan sedang meminta komitmen kita untuk selalu setia kepadaNya.
Inilah saatnya membaharui komitmen kesetiaan kita kepada Tuhan, sebelum
melanjutkan perjalanan. Kesetiaan mendatangkan berkat luar biasa. Maka tetaplah
setia pada janjimu kepada Tuhan; sebagai orang percaya, sebagai suami, isteri,
orangtua, pelayanan, panggilan tugas dan tanggungjawab, dll. Memang tidak mudah
tetapi Roh Kudus akan menguatkan kita. Amin.
“Roh Kudus memulihkan umatNya.” (Kisah Para Rasul 2:1-21)
“Roh Kudus memulihkan umatNya.” (Kisah Para Rasul 2:1-21)
Peristiwa turunnya Roh Kudus menandai periode baru akan
karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Ketidakhadiran Yesus secara fisik
bukan berarti membuat pengajaran dan pengaruhNya menjadi berakhir di
tengah-tengah dunia ini. Sekalipun tak terlihat secara kasat mata tetapi
kuasaNya masih tetap bekerja nyata dan ajaranNya terus tersebar olah Roh Kudus
melalui murid-murid dan orang-orang yang percaya kepadaNya. Peristiwa ini juga
sekaligus menandai periode penting bagi kehidupan murid-muridNya. Dengan
turunnya Roh Kudus maka apa yang dijanjikan oleh Yesus saat bersama mereka kini
digenapi. (lih. Yoh. 14:16,26; Kisah 1:8) Kini mereka memiliki persekutuan yang
lebih dalam dengan Yesus, sebab RohNya tinggal di dalam diri mereka. Melalui
Roh Kudus Yesus selalu menyertai dan menolong mereka di mana dan ke manapun
mereka pergi. Mereka tidak hanya menyaksikan kuasa Yesus bekerja tetapi kuasa
itu ada di dalam diri mereka sendiri.
Hal itulah yang nyata dalam peristiwa ini. Begitu
melihat apa yang terjadi orang-orang Yahudi yang saleh yang berdiam di
Yerusalem menjadi bingung. Bagaimana mungkin mereka yang berkumpul itu dapat
berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain; orang Partia, Media, Elam, Mesopotamia,
Yudea, Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah
Libia, Kirene. Bahkan dalam bahasa orang Kreta dan Arab. Orang-orang Yahudi itu
bertambah heran dan tercengang karena mereka yang berkata-kata itu adalah
orang-orang Galilea. Dengan kata lain mereka bukanlah orang-orang terpelajar
dalam hal agama. Mereka hanya orang-orang biasa; tidak seperti kaum Farisi,
para Imam dan ahli-ahli Taurat, yang lajim dihormati sebagai ahli-ahli agama
Yahudi. Belum pernah ada peristiwa seperti itu sebelumnya. Hal ini membuat
mereka tercengang-cengang dan termangu-mangu. Betapapun kerasnya mereka
berusaha untuk memahami yang terjadi namun tetap saja mereka tidak dapat
mengerti. Malah karena kebuntuan berpikir ada yang menyindir bahwa mereka mabuk
oleh anggur manis. (ay.13)
Hal ini menunjukkan betapa bodohnya orang-orang Yahudi
yang saleh itu di hadapan Allah. Status terhormat mereka tidak cukup membuat
mereka dapat memahami pekerjaan Allah di dalam RohNya. Sebaliknya orang-orang
Galilea yang mereka pandang sebelah mata itu, kepada merekalah Allah berkenan
mencurahkan RohNya. Orang-orang Galilea itu memang hanyalah orang-orang biasa
tetapi mereka menjadi luar biasa karena Roh Kudus yang dicurahkan atas mereka.
Allah tidak membutuhkan orang-orang luar biasa untuk melakukan perkara yang
besar melainkan orang-orang biasa yang memberi dirinya dikuasai oleh Roh Kudus.
Oleh Roh Kudus kini mereka menjadi berbeda, khususnya murid-murid Yesus. Roh
Kudus telah membaharui mereka. Perhatikanlah perubahan yang terjadi pada
Petrus; dia yang menyangkal Yesus karena takut, kini dengan suara nyaring
berbicara kepada orang-orang Yahudi itu. Dengan berani ia menjelaskan yang
terjadi sesuai dengan Kitab Suci. Sungguh Roh Kudus telah memulihkan umatNya.
Mereka dapat melakukan melebihi kapasitas mereka. Kita percaya hal yang sama
dapat terjadi pada diri kita. Kita mungkin hanya orang-orang biasa, tapi dengan
iman, Roh Kudus akan membuat kita menjadi orang-orang yang luar biasa. Amin.
“Beritahukanlah kepadaku jalan kehidupan.” (Mazmur 16:1-11)
“Beritahukanlah
kepadaku jalan kehidupan.” (Mazmur 16:1-11)
Tuhan
memberitahukan jalan kehidupan kepada orang-orang yang setia dan berlindung
pada-Nya. Hal ini sebagai cara Tuhan untuk membebaskan mereka dari dunia orang
mati. Bagaimanapun iblis sebagai penguasa dunia orang mati akan selalu berupaya
membinasakan para pengikut Tuhan dengan berbagai cara; melalui pencobaan,
penderitaan, sakit-penyakit, penganiayaan, kesulitan hidup, sampai
tawaran-tawaran yang menggiurkan, dan lain-lain. Jadi dunia orang mati di sini
bukanlah semata-mata dalam pengertian harafiah, melainkan suatu keberadaan yang
terputus dari Tuhan. Inilah tujuan iblis dalam segala upayanya. Namun Tuhan
tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak menyerahkan umat-Nya ke dunia orang
mati dan membiarkan mereka binasa. Dalam hal inilah kita dapat memahami maksud
pencobaan yang dialami oleh orang Kristen mula-mula dalam Epistel Minggu ini.
(lih. 1 Pet. 1:3-9) Maksud semua pencobaan itu bukanlah kebinasaan orang-orang
percaya. Sebab Tuhan memberitahukan umat-Nya jalan kehidupan. Dimana jalan ini
akan membawa mereka yang berjalan di atasnya tiba pada tujuan yang membuat
mereka hidup. Jika dunia orang mati bermakna terpisah dari Tuhan maka kehidupan
berada di hadapan Tuhan atau terhubung dengan Tuhan. Inilah kehidupan
sesungguhnya yang dimaksud oleh pemazmur, sebagaimana dikatakannya pada ayat
11b: “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada
nikmat senantiasa.” Maka jalan kehidupan adalah jalan yang mebawa kita sampai
ke hadapan Tuhan atau dekat kepada-Nya. Sebagaimana nama Minggu kita hari ini
QUASIMODOGENITI; Jadilah seperti bayi yang baru lahir, nats ini sangat tepat
menyapa kita. Seorang bayi yang baru lahir mustahil dapat hidup dari dirinya
sendiri, melainkan bergantung pada pemeliharaan orangtuanya. Demikianlah kita orang
yang telah dilahirkan kembali oleh kebangkitan Kristus (1 Pet. 1:3) harus
senantiasa menggantungkan kehidupan kita pada Tuhan, Bapa kita. Hanya Dia yang
tahu apa yang terbaik bagi kita. (ay. 2) Jadi jangan pernah meragukan-Nya. Apa
yang disediakan atau ditentukan-Nya menjadi bagian kita pasti itulah yang
terindah bagi kita. Mungkin tidak sebaik atau semahal atau sebanyak yang
dimiliki oleh orang lain, tapi percayalah Dia memberikan itu kepada kita adalah
untuk menyenangkan hati kita apabila kita terima dengan Iman (ay. 6). Amin
“Tuhan Penolong yang setia.” (Mazmur 121:1-8)
“Tuhan
Penolong yang setia.” (Mazmur 121:1-8)
Mazmur ini diawali dengan pertanyaan, “Dari
manakah akan datang pertolonganku?” Timbul sebagai ungkapan keresahan hati
pemazmur setelah melayangkan matanya ke gunung-gunung. Di pegunungan di sebelah
Timur dan Selatan Yerusalem terdapat wilayah yang sunyi di mana binatang buas
dan penyamun menantikan mangsanya. Di gunung-gunungpun terdapat pohon keramat
dan mezbah untuk dewa-dewa kesuburan. (bnd. Hos. 4:13; Yer. 3:6; 17:2; Yeh.
6:13) Baal dan Astarte bertuan di situ dan belum pasti bahwa pemuja TUHAN bisa
melewati wilayah itu dengan selamat. Dalam bahaya yang timbul itu dari manakah
datang pertolongan? Jawaban yang diberikan dalam bentuk pengakuan percaya:
“Pertolonganku ialah dari TUHAN.” Inilah pengalaman dan pengakuan yang
menguatkan. Orang yang bertanya tadi adalah yang datang berziarah ke Yerusalem
untuk beribadah kepada TUHAN. Sekalipun dia telah taat beribadah ternyata tetap
saja ada kemungkinan dia menghadapi marabahaya dalam perjalanannya pulang. Di
sinilah imam meyakinkannya bahwa TUHANlah yang akan menolongnya. Sang Penolong
itu adalah “Yang menjadikan langit dan bumi.” Hal ini berarti TUHAN sanggup
menolong di mana saja. Tidak ada wilayah yang berada di luar pemerintahanNya.
Pertolongan itu nyata dalam ungkapan “Ia takkan membiarkan kakimu goyah.” Artinya
TUHAN akan membangkitkan kekuatan di dalam hatinya sehingga ia tidak gentar.
Selain itu tidak ada waktu yang terdapat di luar kewaspadaanNya. Kalau
dewa-dewa kesuburan terlelap di musim rontok dan tidur di musim dingin (bila daun-daunan gugur dan sesuatupun tidak
bertumbuh), tapi tidak demikian halnya dengan TUHAN. Ia senantiasa menjaga;
seperti seorang gembala Dia menjaga umatNya, (Mzm. 23; 80:2; 95:7), mengingat
dan memperhatikan umatNya agar mereka hidup. (bnd. Kej. 28:15; Ul. 28:6) Alam
semesta ini adalah ciptaanNya dan karena itu tunduk di bawah kuasaNya. Maka
apabila ada penyakit yang dapat ditimbulkan oleh matahari di siang hari dan bulan
pada malam hari hal itu tidak akan menimpa umatNya. Matahari dan bulan itu akan
menjadi berkat yang bermanfaat bagi umatNya. Di atas semuanya itu hal
terpenting adalah TUHAN akan menjaga nyawa/hidup umatNya. Sebagai umat Tuhan
kita adalah orang-orang yang sedang menghadapi perjalanan. Sebagaimana dalam
nats ini gunung-gunung menunjuk kepada tantangan, kesulitan dan marabahaya,
maka demikian juga di hadapan kita saat ini terdapat gunung-gunung kita. Nats ini
menguatkan kita bahwa TUHANlah Penolong yang setia. Namun adakah Iman di dalam
diri kita? Yesus Kristus pernah berkata, “….sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji
sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke
sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”
(Mat. 17:20) Amin.
“Hidup di dalam anugerah.” (Roma 5:12-19)
“Hidup di
dalam anugerah.” (Roma 5:12-19)
Secara sederhana anugerah berarti suatu pemberian yang
tidak didasarkan pada prestasi atau perbuatan baik. Bukan pula sebagai imbalan
setimpal atas jerih payah, tapi tindakan yang didasarkan pada kemurahan hati sipemberi
bukan kelayakan sipenerima. Hidup yang kita jalani ini bukanlah sebagai hasil
prestasi kita dalam menaati Hukum atau Perintah Allah semata. Karena mustahil
kita dapat hidup bergantung pada prestasi ketaatan kita pada Hukum Taurat.
Kapankah terakhir kali kita tidak berbuat dosa? Kenyataannya kita adalah orang
yang seringkali jatuh ke dalam dosa. Bahkan jauh sebelum kita tahu membedakan
yang jahat dan yang baik, kita sudah berdosa. Itulah yang dikatakan oleh nats
ini. Oleh satu orang yaitu Adam, dosa telah masuk ke dalam dunia ini. Maka
semua orang juga telah berdosa. (ay.5) Tidak ada manusia yang lahir bersih
tanpa dosa. Semua manusia telah mewarisi dosa dari Adam. Dan sesuai Firman
Tuhan akibatnya adalah maut. (lih. Kej. 2:11; Rm. 6:23) Maut adalah
satu-satunya balasan yang pantas dan setimpal bagi manusia. Kata yang sama
dengan maut adalah mati. Pengertian mati di sini bukan sekedar tidak bernyawa
melainkan lebih kepada makna rohani, yakni terkutuk. Hal itu dapat kita baca
dalam Kejadian 3; Adam dan Hawa memang masih tetap hidup (bernyawa) tapi pada dasarnya mereka telah mati karena harus
menjalani kehidupan yang terkutuk. Pada jaman Musa Allah memberi Hukum Taurat.
Oleh Hukum Taurat itu manusia disadarkan betapa banyak dosa mereka. Hal ini makin
memperlihatkan kemustahilan manusia beroleh hidup dengan mengandalkan
perbuatannya. Di tengah kemustahilan itulah Allah menyediakan jalan lain yaitu,
‘anugerah.” Bukan lagi pada prestasi
kebaikan manusia tetapi oleh belas kasih-Nya. Bukan berarti Allah menerima
dosa, sama sekali tidak. Manusia diterima dengan terlebih dahulu dibenarkan
dalam Yesus Kristus. Dosa dan maut yang harusnya menimpa manusia kini
dipikulkan pada Yesus. Oleh kematian Yesus Kristus seluruh hutang terhadap
Hukum Taurat dibayar lunas. Demikianlah kehidupan masuk ke dalam dunia ini,
dapat diperoleh oleh orang yang percaya kepadaNya, kepada kematian dan
kebangkitanNya. Oleh Yesus Kristus orang-orang percaya kini menjalani periode
hidup yang baru yaitu hidup di dalam
anugerah. Renungkanlah; hidup kita saat ini sebenarnya tidak layak untuk
kita hidupi. Mestinya upah kita hari ini adalah kutuk dan malapetaka. Tapi
semuanya itu dibatalkan oleh Yesus dan digantikan dengan berkat dan sukacita.
Itulah hidup kita. Maka jalanilah hidup ini sebagai anugerah Allah. Amin.
“Tampil sebagai anak yang diurapi.” (Mazmur 2:1-12)
“Tampil sebagai anak yang diurapi.” (Mazmur 2:1-12)
Mazmur 2 ini adalah Mazmur Mesias, yaitu yang
menubuatkan kedatangan Mesias Allah, Yesus Kristus. “Mesias” artinya “Yang
diurapi,” dan dipakai untuk Yesus yang diurapi Allah untuk menebus Israel dan
memerintah atas Kerajaan Allah. Pemazmur memulai dengan membicarakan
bangsa-bangsa dan raja-raja dunia yang menentang Yang diurapi Allah tersebut.
(ay.1-3 bnd. Kisah 4:25-27) Suatu gambaran yang menyedihkan mengenai
pemberontakan congkak umat manusia terhadap Allah, hukumNya, penebusanNya,
MesiasNya dan ajaran moral penyataanNya. Hal demikian masih terus terjadi dari
jaman Perjanjian Baru hingga saat ini. Dunia terus membangun pertentangan
terhadap Kristus, orang percaya dan iman Alkitabiah. (Lih. Yoh. 15:19; Ef.
6:12) Sehebat-hebatnya raja-raja dunia ini dan betapapun meyakinkannya
permufakatan para pembesarnya mustahil dapat melawan Tuhan. Hal ini merupakan
perkara yang sia-sia. Tuhan malah tertawa melihat perbuatan itu dan
mengolok-olok mereka. Allah mencemooh usaha bodoh dari dunia yang ingin
menyingkirkanNya. Saatnya akan tiba ketika Dia mengakhiri pemberontakan manusia
dan menegakkan kerajaanNya di atas muka bumi ini. (Lih. Rm. 1:18; 1 Tes.
5:1-11; 2 Tes. 2:8; Why. 19:11-12) Allah Bapa berjanji untuk mengutus Anak yang
dikasihiNya (ay. 7-9) untuk mengalahkan semua pihak yang menentang
pemerintahanNya. Jadi, janji ini akan digenapi ketika Kristus datang ke dunia
ini pada akhir zaman dan membinasakan semua musuh Allah. (Lih. Why. 12:5;
19:15) Ketika itu semua orang percaya yang setia akan ikut memerintah
bangsa-bangsa bersama dengan Dia. (Why. 2:26-27) Melalui nats ini pemazmur
mengajak kita umat manusia untuk bersikap bijaksana di hadapan Allah Yang
Mahakuasa dan berlindung padaNya sebelum hari penghakiman yang dahsyat itu
tiba. (ay.10-12; Ibr. 3:7-19) Bersikap bijaksana berarti menjauhkan diri dari
sifat sombong dan angkuh; hidup dengan mengandalkan kekuatan dan pikiran
sendiri. Hal itu sama dengan perbuatan menentang Allah. Melainkan bersikap
rendah hati dan taat akan FirmanNya, serta senantiasa mengagungkan dan memuji
namaNya. Sebagai umat dari Mesias Allah kita akan mengalami berbagai kesusahan
seperti penolakan dan kebencian. Namun kita tidak perlu berkecil hati atas hal
itu. Sebab yang mereka tolak dan benci adalah Mesias itu sendiri. Pada waktunya
Dia akan membuat mereka mendapat malu dan membela barangsiapa yang berlindung
padaNya. Apapun yang kita alami jadikan Allah perlindunganmu. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)