Sunday, January 14, 2018

“Roh Kudus menguatkan orang percaya.” (Keluaran 19 : 2-8a)

“Roh Kudus menguatkan orang percaya.” (Keluaran 19 : 2-8a)
            Gunung Sinai adalah tempat yang sangat penting dalam perjalanan orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir oleh tangan TUHAN yang kuat. Di sini TUHAN menetapkan perjanjianNya dengan mereka. Perjanjian tersebut merupakan perluasan dari perjanjian TUHAN dengan Abraham dan keturunannya. (lih. Kej. 15:6, 18; 17:7; 22:18) Perjanjian ini merumuskan syarat-syarat yang dengannya Israel akan tetap menjadi milik TUHAN, terus tinggal di dalam berkatNya dan melaksanakan kehendakNya bagi bangsa itu. (lih. Kej. 12:2-3; 26:4) TUHAN bermaksud agar Israel menjadi yang unik, terpilih dan terpisah untuk TUHAN. Umat Israel harus menanggapi dengan ketaatan dan rasa syukur kepadaNya serta berusaha memelihara perintah-perintah yang ada. Apabila mereka setia dengan perjanjian ini mereka akan tetap menjadi umat TUHAN yang khusus.
                Di gunung ini TUHAN menyatakan maksud dan tujuanNya dalam membebaskan orang Israel dari perbudakan. Lebih daripada sekedar pembebasan bersifat politis dan memberikan tanah untuk tempat tinggal, TUHAN mempunyai tujuan yang jauh lebih besar. Pembebasan dari Mesir adalah dalam rangka menggenapi janjiNya kepada mereka sebagai umat perjanjian. Hal itu menunjukkan bahwa TUHAN tidak melupakan janjiNya sekalipun waktu sudah berlalu begitu lama. Namun bagaimanapun penggenapan janji itu tetap menuntut ketaatan mereka. “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku…, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku…” (ay. 5) Mereka menjadi umat kesayangan TUHAN hanya apabila mereka taat pada firmanNya. Atas hal ini orang Israel menjawab: “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.” (ay. 8a) Jawaban ini merupakan ekspresi Iman mereka kepada TUHAN. Iman yang akan dinyatakan dalam ketaatan dan kesetiaan. Hal ini mengingatkan kita pada tanggapan Abraham saat TUHAN berfirman kepadanya. Setelah Abraham berumur hampir 100 tahun dan isterinya Sarah sudah tertutup rahimnya, TUHAN berfirman bahwa ia akan memperoleh anak. Abraham percaya akan firman ini. Hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Lalu atas dasar iman inilah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abraham bahwa kepada keturunannyalah akan diberikan tanah Kanaan. Kesediaan Abraham membuat perjanjian dengan TUHAN menunjukkan imannya. Demikianlah halnya dengan orang Israel sebagai keturunan Abraham dalam nats ini. Mereka berjanji akan melaksanakan firman TUHAN. Hal ini mencerminkan iman mereka kepada TUHAN.
                Demikianlah juga dengan umat Tuhan saat ini. Kesetiaan dan ketaatan pada firmanNya menunjukkan seberapa besar iman percaya kita kepadaNya. Tuhan telah memilih kita menjadi harta kesayanganNya. Hal itu nyata dalam Yesus Kristus. Dia telah mati bagi kita justru pada saat kita masih berdosa. (Rm. 5:8) Melalui perbuatanNya itu kita telah ditebus dari perbudakan dosa. Setelah dibebaskan, kini kita sedang berada di “gunung Sinai,” suatu tempat dimana Tuhan sedang meminta komitmen kita untuk selalu setia kepadaNya. Inilah saatnya membaharui komitmen kesetiaan kita kepada Tuhan, sebelum melanjutkan perjalanan. Kesetiaan mendatangkan berkat luar biasa. Maka tetaplah setia pada janjimu kepada Tuhan; sebagai orang percaya, sebagai suami, isteri, orangtua, pelayanan, panggilan tugas dan tanggungjawab, dll. Memang tidak mudah tetapi Roh Kudus akan menguatkan kita. Amin.

“Roh Kudus memulihkan umatNya.” (Kisah Para Rasul 2:1-21)

“Roh Kudus memulihkan umatNya.” (Kisah Para Rasul 2:1-21)
             Peristiwa turunnya Roh Kudus menandai periode baru akan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Ketidakhadiran Yesus secara fisik bukan berarti membuat pengajaran dan pengaruhNya menjadi berakhir di tengah-tengah dunia ini. Sekalipun tak terlihat secara kasat mata tetapi kuasaNya masih tetap bekerja nyata dan ajaranNya terus tersebar olah Roh Kudus melalui murid-murid dan orang-orang yang percaya kepadaNya. Peristiwa ini juga sekaligus menandai periode penting bagi kehidupan murid-muridNya. Dengan turunnya Roh Kudus maka apa yang dijanjikan oleh Yesus saat bersama mereka kini digenapi. (lih. Yoh. 14:16,26; Kisah 1:8) Kini mereka memiliki persekutuan yang lebih dalam dengan Yesus, sebab RohNya tinggal di dalam diri mereka. Melalui Roh Kudus Yesus selalu menyertai dan menolong mereka di mana dan ke manapun mereka pergi. Mereka tidak hanya menyaksikan kuasa Yesus bekerja tetapi kuasa itu ada di dalam diri mereka sendiri.
             Hal itulah yang nyata dalam peristiwa ini. Begitu melihat apa yang terjadi orang-orang Yahudi yang saleh yang berdiam di Yerusalem menjadi bingung. Bagaimana mungkin mereka yang berkumpul itu dapat berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain; orang Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia, Kirene. Bahkan dalam bahasa orang Kreta dan Arab. Orang-orang Yahudi itu bertambah heran dan tercengang karena mereka yang berkata-kata itu adalah orang-orang Galilea. Dengan kata lain mereka bukanlah orang-orang terpelajar dalam hal agama. Mereka hanya orang-orang biasa; tidak seperti kaum Farisi, para Imam dan ahli-ahli Taurat, yang lajim dihormati sebagai ahli-ahli agama Yahudi. Belum pernah ada peristiwa seperti itu sebelumnya. Hal ini membuat mereka tercengang-cengang dan termangu-mangu. Betapapun kerasnya mereka berusaha untuk memahami yang terjadi namun tetap saja mereka tidak dapat mengerti. Malah karena kebuntuan berpikir ada yang menyindir bahwa mereka mabuk oleh anggur manis. (ay.13)

             Hal ini menunjukkan betapa bodohnya orang-orang Yahudi yang saleh itu di hadapan Allah. Status terhormat mereka tidak cukup membuat mereka dapat memahami pekerjaan Allah di dalam RohNya. Sebaliknya orang-orang Galilea yang mereka pandang sebelah mata itu, kepada merekalah Allah berkenan mencurahkan RohNya. Orang-orang Galilea itu memang hanyalah orang-orang biasa tetapi mereka menjadi luar biasa karena Roh Kudus yang dicurahkan atas mereka. Allah tidak membutuhkan orang-orang luar biasa untuk melakukan perkara yang besar melainkan orang-orang biasa yang memberi dirinya dikuasai oleh Roh Kudus. Oleh Roh Kudus kini mereka menjadi berbeda, khususnya murid-murid Yesus. Roh Kudus telah membaharui mereka. Perhatikanlah perubahan yang terjadi pada Petrus; dia yang menyangkal Yesus karena takut, kini dengan suara nyaring berbicara kepada orang-orang Yahudi itu. Dengan berani ia menjelaskan yang terjadi sesuai dengan Kitab Suci. Sungguh Roh Kudus telah memulihkan umatNya. Mereka dapat melakukan melebihi kapasitas mereka. Kita percaya hal yang sama dapat terjadi pada diri kita. Kita mungkin hanya orang-orang biasa, tapi dengan iman, Roh Kudus akan membuat kita menjadi orang-orang yang luar biasa. Amin.

“Beritahukanlah kepadaku jalan kehidupan.” (Mazmur 16:1-11)

“Beritahukanlah kepadaku jalan kehidupan.” (Mazmur 16:1-11)

Tuhan memberitahukan jalan kehidupan kepada orang-orang yang setia dan berlindung pada-Nya. Hal ini sebagai cara Tuhan untuk membebaskan mereka dari dunia orang mati. Bagaimanapun iblis sebagai penguasa dunia orang mati akan selalu berupaya membinasakan para pengikut Tuhan dengan berbagai cara; melalui pencobaan, penderitaan, sakit-penyakit, penganiayaan, kesulitan hidup, sampai tawaran-tawaran yang menggiurkan, dan lain-lain. Jadi dunia orang mati di sini bukanlah semata-mata dalam pengertian harafiah, melainkan suatu keberadaan yang terputus dari Tuhan. Inilah tujuan iblis dalam segala upayanya. Namun Tuhan tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak menyerahkan umat-Nya ke dunia orang mati dan membiarkan mereka binasa. Dalam hal inilah kita dapat memahami maksud pencobaan yang dialami oleh orang Kristen mula-mula dalam Epistel Minggu ini. (lih. 1 Pet. 1:3-9) Maksud semua pencobaan itu bukanlah kebinasaan orang-orang percaya. Sebab Tuhan memberitahukan umat-Nya jalan kehidupan. Dimana jalan ini akan membawa mereka yang berjalan di atasnya tiba pada tujuan yang membuat mereka hidup. Jika dunia orang mati bermakna terpisah dari Tuhan maka kehidupan berada di hadapan Tuhan atau terhubung dengan Tuhan. Inilah kehidupan sesungguhnya yang dimaksud oleh pemazmur, sebagaimana dikatakannya pada ayat 11b: “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” Maka jalan kehidupan adalah jalan yang mebawa kita sampai ke hadapan Tuhan atau dekat kepada-Nya. Sebagaimana nama Minggu kita hari ini QUASIMODOGENITI; Jadilah seperti bayi yang baru lahir, nats ini sangat tepat menyapa kita. Seorang bayi yang baru lahir mustahil dapat hidup dari dirinya sendiri, melainkan bergantung pada pemeliharaan orangtuanya. Demikianlah kita orang yang telah dilahirkan kembali oleh kebangkitan Kristus (1 Pet. 1:3) harus senantiasa menggantungkan kehidupan kita pada Tuhan, Bapa kita. Hanya Dia yang tahu apa yang terbaik bagi kita. (ay. 2) Jadi jangan pernah meragukan-Nya. Apa yang disediakan atau ditentukan-Nya menjadi bagian kita pasti itulah yang terindah bagi kita. Mungkin tidak sebaik atau semahal atau sebanyak yang dimiliki oleh orang lain, tapi percayalah Dia memberikan itu kepada kita adalah untuk menyenangkan hati kita apabila kita terima dengan Iman (ay. 6). Amin

“Tuhan Penolong yang setia.” (Mazmur 121:1-8)

“Tuhan Penolong yang setia.” (Mazmur 121:1-8)
Mazmur ini diawali dengan pertanyaan, “Dari manakah akan datang pertolonganku?” Timbul sebagai ungkapan keresahan hati pemazmur setelah melayangkan matanya ke gunung-gunung. Di pegunungan di sebelah Timur dan Selatan Yerusalem terdapat wilayah yang sunyi di mana binatang buas dan penyamun menantikan mangsanya. Di gunung-gunungpun terdapat pohon keramat dan mezbah untuk dewa-dewa kesuburan. (bnd. Hos. 4:13; Yer. 3:6; 17:2; Yeh. 6:13) Baal dan Astarte bertuan di situ dan belum pasti bahwa pemuja TUHAN bisa melewati wilayah itu dengan selamat. Dalam bahaya yang timbul itu dari manakah datang pertolongan? Jawaban yang diberikan dalam bentuk pengakuan percaya: “Pertolonganku ialah dari TUHAN.” Inilah pengalaman dan pengakuan yang menguatkan. Orang yang bertanya tadi adalah yang datang berziarah ke Yerusalem untuk beribadah kepada TUHAN. Sekalipun dia telah taat beribadah ternyata tetap saja ada kemungkinan dia menghadapi marabahaya dalam perjalanannya pulang. Di sinilah imam meyakinkannya bahwa TUHANlah yang akan menolongnya. Sang Penolong itu adalah “Yang menjadikan langit dan bumi.” Hal ini berarti TUHAN sanggup menolong di mana saja. Tidak ada wilayah yang berada di luar pemerintahanNya. Pertolongan itu nyata dalam ungkapan “Ia takkan membiarkan kakimu goyah.” Artinya TUHAN akan membangkitkan kekuatan di dalam hatinya sehingga ia tidak gentar. Selain itu tidak ada waktu yang terdapat di luar kewaspadaanNya. Kalau dewa-dewa kesuburan terlelap di musim rontok dan tidur di musim dingin (bila daun-daunan gugur dan sesuatupun tidak bertumbuh), tapi tidak demikian halnya dengan TUHAN. Ia senantiasa menjaga; seperti seorang gembala Dia menjaga umatNya, (Mzm. 23; 80:2; 95:7), mengingat dan memperhatikan umatNya agar mereka hidup. (bnd. Kej. 28:15; Ul. 28:6) Alam semesta ini adalah ciptaanNya dan karena itu tunduk di bawah kuasaNya. Maka apabila ada penyakit yang dapat ditimbulkan oleh matahari di siang hari dan bulan pada malam hari hal itu tidak akan menimpa umatNya. Matahari dan bulan itu akan menjadi berkat yang bermanfaat bagi umatNya. Di atas semuanya itu hal terpenting adalah TUHAN akan menjaga nyawa/hidup umatNya. Sebagai umat Tuhan kita adalah orang-orang yang sedang menghadapi perjalanan. Sebagaimana dalam nats ini gunung-gunung menunjuk kepada tantangan, kesulitan dan marabahaya, maka demikian juga di hadapan kita saat ini terdapat gunung-gunung kita. Nats ini menguatkan kita bahwa TUHANlah Penolong yang setia. Namun adakah Iman di dalam diri kita? Yesus Kristus pernah berkata, “….sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Mat. 17:20) Amin.

“Hidup di dalam anugerah.” (Roma 5:12-19)

“Hidup di dalam anugerah.” (Roma 5:12-19)

Secara sederhana anugerah berarti suatu pemberian yang tidak didasarkan pada prestasi atau perbuatan baik. Bukan pula sebagai imbalan setimpal atas jerih payah, tapi tindakan yang didasarkan pada kemurahan hati sipemberi bukan kelayakan sipenerima. Hidup yang kita jalani ini bukanlah sebagai hasil prestasi kita dalam menaati Hukum atau Perintah Allah semata. Karena mustahil kita dapat hidup bergantung pada prestasi ketaatan kita pada Hukum Taurat. Kapankah terakhir kali kita tidak berbuat dosa? Kenyataannya kita adalah orang yang seringkali jatuh ke dalam dosa. Bahkan jauh sebelum kita tahu membedakan yang jahat dan yang baik, kita sudah berdosa. Itulah yang dikatakan oleh nats ini. Oleh satu orang yaitu Adam, dosa telah masuk ke dalam dunia ini. Maka semua orang juga telah berdosa. (ay.5) Tidak ada manusia yang lahir bersih tanpa dosa. Semua manusia telah mewarisi dosa dari Adam. Dan sesuai Firman Tuhan akibatnya adalah maut. (lih. Kej. 2:11; Rm. 6:23) Maut adalah satu-satunya balasan yang pantas dan setimpal bagi manusia. Kata yang sama dengan maut adalah mati. Pengertian mati di sini bukan sekedar tidak bernyawa melainkan lebih kepada makna rohani, yakni terkutuk. Hal itu dapat kita baca dalam Kejadian 3; Adam dan Hawa memang masih tetap hidup (bernyawa) tapi pada dasarnya mereka telah mati karena harus menjalani kehidupan yang terkutuk. Pada jaman Musa Allah memberi Hukum Taurat. Oleh Hukum Taurat itu manusia disadarkan betapa banyak dosa mereka. Hal ini makin memperlihatkan kemustahilan manusia beroleh hidup dengan mengandalkan perbuatannya. Di tengah kemustahilan itulah Allah menyediakan jalan lain yaitu, ‘anugerah.” Bukan lagi pada prestasi kebaikan manusia tetapi oleh belas kasih-Nya. Bukan berarti Allah menerima dosa, sama sekali tidak. Manusia diterima dengan terlebih dahulu dibenarkan dalam Yesus Kristus. Dosa dan maut yang harusnya menimpa manusia kini dipikulkan pada Yesus. Oleh kematian Yesus Kristus seluruh hutang terhadap Hukum Taurat dibayar lunas. Demikianlah kehidupan masuk ke dalam dunia ini, dapat diperoleh oleh orang yang percaya kepadaNya, kepada kematian dan kebangkitanNya. Oleh Yesus Kristus orang-orang percaya kini menjalani periode hidup yang baru yaitu hidup di dalam anugerah. Renungkanlah; hidup kita saat ini sebenarnya tidak layak untuk kita hidupi. Mestinya upah kita hari ini adalah kutuk dan malapetaka. Tapi semuanya itu dibatalkan oleh Yesus dan digantikan dengan berkat dan sukacita. Itulah hidup kita. Maka jalanilah hidup ini sebagai anugerah Allah. Amin. 

“Tampil sebagai anak yang diurapi.” (Mazmur 2:1-12)

“Tampil sebagai anak yang diurapi.” (Mazmur 2:1-12)

Mazmur 2 ini adalah Mazmur Mesias, yaitu yang menubuatkan kedatangan Mesias Allah, Yesus Kristus. “Mesias” artinya “Yang diurapi,” dan dipakai untuk Yesus yang diurapi Allah untuk menebus Israel dan memerintah atas Kerajaan Allah. Pemazmur memulai dengan membicarakan bangsa-bangsa dan raja-raja dunia yang menentang Yang diurapi Allah tersebut. (ay.1-3 bnd. Kisah 4:25-27) Suatu gambaran yang menyedihkan mengenai pemberontakan congkak umat manusia terhadap Allah, hukumNya, penebusanNya, MesiasNya dan ajaran moral penyataanNya. Hal demikian masih terus terjadi dari jaman Perjanjian Baru hingga saat ini. Dunia terus membangun pertentangan terhadap Kristus, orang percaya dan iman Alkitabiah. (Lih. Yoh. 15:19; Ef. 6:12) Sehebat-hebatnya raja-raja dunia ini dan betapapun meyakinkannya permufakatan para pembesarnya mustahil dapat melawan Tuhan. Hal ini merupakan perkara yang sia-sia. Tuhan malah tertawa melihat perbuatan itu dan mengolok-olok mereka. Allah mencemooh usaha bodoh dari dunia yang ingin menyingkirkanNya. Saatnya akan tiba ketika Dia mengakhiri pemberontakan manusia dan menegakkan kerajaanNya di atas muka bumi ini. (Lih. Rm. 1:18; 1 Tes. 5:1-11; 2 Tes. 2:8; Why. 19:11-12) Allah Bapa berjanji untuk mengutus Anak yang dikasihiNya (ay. 7-9) untuk mengalahkan semua pihak yang menentang pemerintahanNya. Jadi, janji ini akan digenapi ketika Kristus datang ke dunia ini pada akhir zaman dan membinasakan semua musuh Allah. (Lih. Why. 12:5; 19:15) Ketika itu semua orang percaya yang setia akan ikut memerintah bangsa-bangsa bersama dengan Dia. (Why. 2:26-27) Melalui nats ini pemazmur mengajak kita umat manusia untuk bersikap bijaksana di hadapan Allah Yang Mahakuasa dan berlindung padaNya sebelum hari penghakiman yang dahsyat itu tiba. (ay.10-12; Ibr. 3:7-19) Bersikap bijaksana berarti menjauhkan diri dari sifat sombong dan angkuh; hidup dengan mengandalkan kekuatan dan pikiran sendiri. Hal itu sama dengan perbuatan menentang Allah. Melainkan bersikap rendah hati dan taat akan FirmanNya, serta senantiasa mengagungkan dan memuji namaNya. Sebagai umat dari Mesias Allah kita akan mengalami berbagai kesusahan seperti penolakan dan kebencian. Namun kita tidak perlu berkecil hati atas hal itu. Sebab yang mereka tolak dan benci adalah Mesias itu sendiri. Pada waktunya Dia akan membuat mereka mendapat malu dan membela barangsiapa yang berlindung padaNya. Apapun yang kita alami jadikan Allah perlindunganmu. Amin.

Friday, January 27, 2017

“Lakukanlah Kebenaran Allah.” (Mazmur 15:1-5)



“Lakukanlah Kebenaran Allah.” (Mazmur 15:1-5)
Allah menyatakan diriNya sebagai Allah yang mencintai kebenaran. Hal ini terutama dalam hubungan atau relasi kita dengan sesama. Bagaimana kita berbicara, bersikap dan bertindak terhadap orang lain ternyata sangat menentukan dalam hubungan kita dengan Allah. Pertanyaan pemazmur, “TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?” (ay.1) menunjuk kepada orang yang beribadah. Orang yang datang ke hadapan Allah sangat penting untuk memperhatikan bagaimana mereka memperlakukan sesamanya. Allah tidak hanya memperhatikan kesalehan kita dalam bentuk ibadah ritual tetapi juga dalam bentuk perilaku sosial kita. Dengan kata lain tindak-tanduk sosial kita adalah juga ibadah di hadapan Allah. Orang yang beribadah kepada Allah tetapi bertindak tidak adil dan menipu sesamanya merupakan ibadah yang hampa di hadapanNya. Karena itu tidak ada tempat di hadapan Allah bagi orang yang suka memfitnah, berbuat jahat dan menimpakan cela kepada sesamanya. (ay. 2-3) Hadirat Allah adalah bagi mereka yang hatinya bersih dan sungguh-sungguh takut akan Dia. Yesus sendiri berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat. 5:8) Maka jika ingin mengalami perjumpaan dengan Allah dalam ibadah atau doa-doa kita pastikanlah terlebih dahulu hati kita bersih dari iri dan dengki. Buanglah terlebih dahulu dendam dan niat jahat terhadap sesama. “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu,” (Mat. 5:23-24) demikian kata Yesus untuk mengajarkan kemurnian hati dalam ibadah. Secara praktis hal ini mudah kita pahami, bagaimana mungkin kita bisa fokus berdoa kepada Allah sementara hati kita dipenuhi oleh kemarahan atau dendam. Melalui nats ini kita diajak untuk dengan rendah hati di hadapan Allah mengoreksi perilaku sosial kita; bagaimana kita memperlakukan keluarga, anak-anak, pasangan, orangtua, saudara, tetangga, rekan kerja, jemaat dan orang lain. Tuhan berkenan atas ibadah orang-orang yang bersih hatinya, jujur dan tulus dalam perilakunya. Bahkan Tuhan ada di pihak orang-orang seperti itu. Sebab itu beribadahlah kepada Allah dengan benar dan lakukanlah kebenaran Allah sebagai ibadahmu. Amin.

Friday, January 13, 2017

Logo HKBP 2017 : Tahun Pendidikan Dan Pemberdayaan

Latar Belakang
Logo tahun Pendidikan dan Pemberdayaan HKBP 2017 terinspirasi dari kisah Nommensen saat datang ke tanah Batak dan meminta ijin pada raja Pontas Lumbantobing untuk tinggal dan bekerja sebagai misionaris di Rura Silindung.
Saat itu Raja Pontas Lumbantobing bertanya, “apakah keuntungan dari kami jika kami menjadi anak bagi Tuhan?”. Nommensen adalah seorang figur yang menyebarkan ajaran Kristen secara kenosis dengan pendekatan dialektikal pada budaya Batak dalam ajaran teologia. Ia tidak hanya menceritakan sejarah umat Kristen dari Perjanjian Lama dalam kisah bangsa Israel, namun juga mengimplementasikan ajaran Kristen dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak dengan tidak mengubah tatanan budaya dan kearifan lokal masyarakat Batak.
Sehingga, saat itu jawaban Nommensen adalah ia ingin memajukan bangsa Batak, tidak lagi terbelakang melainkan menjadi bangsa yang besar secara pendidikan, kesehatan, moral di bawah naungan kepandaian dan kebijaksanaan yang didapat dari Tuhan — “Habisuhon dohot hapistaran dibagasan Tondi”.
Kemajuanlah yang ingin diterapkan dalam pribadi masyarakat Batak. Dalam kondisi apapun, bangsa Batak tetap berpegang teguh pada demokrasi budaya, beradat dalam menentukan kebijaksanaan, berjuang sekeras mungkin demi melakukan yang terbaik dan yang dicita-citakan. Semua itu berasal atas kepercayaan dan keyakinan yang diperoleh dari kekuasaan Tuhan.
Bangsa Batak menjadi bangsa yang besar karena penerapan pada kepribadian bangsa Batak. Kristen yang otentik tanpa menghilangkan akar “Habatahon”. Maka logo ini adalah persatuan antara tradisi dan gereja yang juga telah menjadi warisan yang ditinggalkan oleh Ompui Nommensen.
Bentuk dan Warna
Bentuk dasar logo diambil dari salah satu jenis gorga Batak, yaitu gorga singa-singa. Gorga adalah ukiran tradisional yang terdapat di dinding rumah bagian luar dan bagian depan dari rumah-rumah adat Batak [1]. Gorga singa-singa dipakai di rumah untuk menandakan bahwa rumah yang dibangun adalah milik seorang yang berwibawa dan dibangun sendiri dengan sekuat tenaga.
Maknanya, pada tahun 2017 ini setiap masyarakat Batak mampu berjuang dan mendapat kesempatan menjadi rumah bagi dirinya sendiri, membangun dan memberdayakan diri di berbagai aspek kehidupan sehingga menjadi pribadi yang utuh, berwibawa, bijaksana, berguna bagi dirinya sendiri, bagi khalayak banyak dan bagi Tuhan. Inilah orientasi dan sasaran pelayanan HKBP pada tahun 2017 ini yaitu Pendidikan dan Pemberdayaan [2].
Dua simbol berbentuk matahari adalah gorga Simataniari. Delapan segitiga yang mengelilinginya adalah arah mata angin. Bentuk segitiga yang serupa berarti bangsa Batak tersebar ke segala penjuru dan menjadi terang di setiap tempat bernaung dan berdedikasi. Bentuk yang ada di tengah-tengah adalah simbol Protestan yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti Kristus (red: mungkin yang dimaksud adalah simbol Chi Rho yang dipakai masyarakat Kristen sejak pemerintahan kaisar Romawi Konstantinus I [3]).
Warna merah “narara” berasal dari warna utama gorga Batak sedangkan warna biru diambil dari lambang gereja HKBP.
Sumber [4]
[1] https://tanobatak.wordpress.com/2007/06/07/ruma-gorga-batak/
[2]http://hkbp.or.id/index.php/2017/01/12/orientasi-pelayanan-hkbp-2017-pendidikan-dan-pemberdayaan/
[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Simbol_Kristen
[4] lihat juga dalam http://horong123.com/2017/01/logo-tahun-pendidikan-dan-pemberdayaan-hkbp-2017/

“Berpegang teguh kepada pengharapan.” (Roma 15 : 4-13

“Berpegang teguh kepada pengharapan.” (Roma 15 : 4-13)


kita diajak untuk berpegang teguh kepada Pengharapan. Bagi orang yang sedang menunggu pengharapan merupakan dasar kekuatan yang membuatnya dapat tetap setia pada apa yang dinantikannya. Pengharapanlah yang membuat seorang pemuda/i dapat setia dalam cinta sekalipun orang yang disayanginya jauh darinya; pengharapanlah yang membuat seorang ibu kuat menahan rasa sakit selama mengandung anaknya ± 9 bulan sampai bersalin. Bahkan semua rasa sakit itu dianggap sebagai kebahagiaan demi sibuah hati yang dinantikan. Pengharapan jugalah yang membuat orangtua sabar mengalami banyak kesulitan dan bekerja keras demi anak-anaknya yang kelak akan menjadi orang yang dapat dibanggakan. Penulis Ibrani mengatakan bahwa pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. (6:19) Artinya pengharapan membuat kita tidak goyah oleh gelombang kehidupan. Saat ini Gereja sedang dalam masa penantian akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. KedatanganNya adalah untuk menggenapi janji Kasih SetiaNya kepada setiap orang yang percaya dan melakukan kehendak Bapa di Sorga, saat dimana upah mereka dinyatakan. (bnd. Ibr.10:35, Why.22:12) Tentu banyak masalah atau cobaan bahkan penganiayaan yang dapat menggoyahkan Iman dan ketaatan kita. Di sinilah rasul Paulus mengajak kita untuk memperhatikan teladan yang diperbuat oleh Yesus bagi kita. Bagaimana Dia dengan sabar menanggung segala penderitaan yang ditimpakan atasNya. Dia memikul kesengsaraan itu sebagai konsekwensi daripada tugas penyelamatan yang diberikan Bapa kepadaNya. (bnd. Ay.3) Mengapa Kristus dapat menanggung semua dengan sabar? Sebab di balik semua jalan penderitaan itu terdapat hal yang terbesar yaitu; keselamatan dunia ini dari belenggu dosa dan maut. Penderitaan Kristus bukanlah kekalahan Kerajaan Allah melainkan jalan menuju kemenangan atas iblis dan dosa. Oleh penderitaanNya terbukalah jalan bagi seluruh bangsa untuk datang kepada Allah dan beroleh keselamatan. Apa yang dapat kita teladani dari perbuatan Kristus ini? Tetaplah fokus pada Pengharapan kita. Sekalipun belum tampak, namun apa yang kita harapkan itu jauh lebih berharga dari apapun yang berharga di dunia ini. Jangan biarkan dirimu tersandung oleh hal-hal yang tak berguna yang dapat membuatmu kehilangan upah terbesar, seperti; egoisme, dendam, suka bermusuhan, kesombongan, keangkuhan, materialisme, cinta uang, dsb. Jika ada hal yang mengharuskan engkau menderita demi pengharapan itu, maka hadapilah dengan sabar. Amin. 

“Jangan takut, Akulah perisaimu.” (Kejadian 15 : 1–6)

“Jangan takut, Akulah perisaimu.” (Kejadian 15 : 1–6)

Gelisah, galau, khawatir bahkan takut adalah manusiawi. Artinya; tidak ada manusia yang tidak pernah mengalaminya. Hal ini menyadarkan kita akan kemanusiaan kita. Dengan memiliki rasa takut itu tandanya kita adalah manusia. Itu sebabnya kita membutuhkan Pribadi yang sempurna untuk menolong kita menghadapi hal-hal yang dapat membuat kita takut. Kita membutuhkan Allah. Demikianlah Abraham; hatinya diteguhkan kembali oleh Allah dari rasa takutnya. Abraham takut mana kala ia meninggal tanpa memiliki anak sebagai pewarisnya. Hal ini sangat mengganggu pikiran Abraham terlebih ia sudah sangat tua, begitu juga isterinya. Dapat dibayangkan betapa hebat rasa takut yang dialami oleh Abraham. Dalam keadaan demikian Allah menyatakan diri kepadanya dan berfirman: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” (ay. 1) Lalu Abraham  mengutarakan kegelisahan hatinya bahkan uneg-unegnya kepada Tuhan: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” (ay. 3) Pernahkah kita sedekat ini kepada Tuhan? Segala beban yang terselip di hati bahkan uneg-uneg sekalipun kita curahkan kepadaNya. Inilah gambaran riil (konkret) orang beriman. Beriman bukan berarti tidak pernah mengalami kekhawatiran atau mengeluh. Namun yang terpenting adalah kepada siapa kita mencurahkan semua itu. Beriman bukan berarti orang yang selalu kuat dalam segala hal atau keadaan melainkan orang yang selalu membutuhkan Allah pada setiap waktu, di sepanjang hidupnya. Abraham disebut sebagai bapa orang percaya; hal itu tidak terjadi dalam sehari atau seminggu, bahkan setahun. Hal itu merupakan hasil dari perjalanan hidupnya jatuh bangun selama berpuluh-puluh tahun. Terkadang ia takut tapi dikuatkan kembali oleh Firman Allah yang datang kepadanya. Jika Abraham begitu membutuhkan Firman Allah, terlebih kita. Kiranya Firman Allah hari ini meneguhkan hati kita dalam  menjalani kehidupan kita. Amin.


“KepadaNyalah Aku berkenan.” (Matius 3:13-17)

“KepadaNyalah Aku berkenan.” (Matius 3:13-17)


Ada dua jenis penyataan Allah; pertama adalah penyataan umum dan kedua adalah khusus. Penyataan umum adalah melalui perbuatan Allah dalam alam semesta. Seluruh umat manusia dapat melihat kebesaran Allah melalui alam semesta ciptaanNya. Sedangkan penyataan khusus dilakukanNya lewat FirmanNya. Untuk itulah Allah mengutus para hambaNya. Penyataan Allah yang terbesar adalah dalam diri Yesus Kristus. (Bnd. Yoh.14:9) Dalam nats ini hal tersebut terdengar jelas oleh suara dari Sorga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (ay. 17) Siapakah Yesus Kristus? Dia adalah Anak Allah yang kekasih, dan Allah berkenan kepada-Nya. Apa artinya itu? Allah berkenan menggenapi seluruh kehendak-Nya dalam diri Yesus Kristus. Seluruh hidup Yesus di dunia ini adalah dalam rangka untuk memenuhi kehendak Allah. Hal itu juga terlihat dalam jawaban Yesus kepada Yohanes Pembaptis saat ia enggan untuk membaptiskan-Nya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” (ay.15) Memang rasanya tidak patut karena Yesus lebih besar dari Yohanes, tapi kehendak Allah harus diutamakan. Bagi orang yang berkenan kepada Allah tidak ada hal yang lebih penting selain daripada melakukan kehendak Allah. Itulah Yesus Kristus yang dinyatakan kepada kita hari ini. Sebagai pengikut-Nya hidup kita hendaknya selalu dipersembahkan untuk melakukan kehendak Allah. Terkadang kita diperhadapkan pada situasi dimana kita harus memilih antara kehendak/keinginan kita atau kehendak Allah. Dalam hal ini godaan terbesar adalah memilih kehendak kita karena hal itu sepertinya lebih indah dan menguntungkan bagi kita. Tetapi sebagai orang Kristen sejati kita harus berani memutuskan seperti yang pernah Yesus lakukan: “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk. 22:42) Bagaimanapun yang baik bagi kita belum tentu baik bagi Allah, tapi yang baik bagi Allah pasti baik bagi kita. Tidak mudah memang tapi hal ini akan bisa kita lakukan apabila kita memberi diri kita dikuasai dan dipimpin oleh Roh Allah. Hanya dengan cara demikian kita dapat menjadi orang yang berkenan kepada Allah. Orang yang dikenan Allah akan selalu disertaiNya dalam segala keadaan, baik suka maupun duka. Amin.

“Menjadi terang bagi bangsa-bangsa.” (Yesaya 49:1-7)

“Menjadi terang bagi bangsa-bangsa.” (Yesaya 49:1-7)

Dalam Minggu II Ephipanias ini Allah menyatakan diriNya sebagai Allah yang sanggup melakukan perkara yang besar melebihi kekuatan dan pikiran manusia. HambaNya berpikir bahwa jerih payahnya telah menjadi sia-sia. Pelayanannya tidak menghasilkan apa-apa malah sepertinya manusia makin jauh dari TUHAN. Namun itu pikiran manusia, bagi Allah tidaklah demikian. Semua itu diberkati oleh Allah dan pasti akan menghasilkan buah. (ay.4) Bahkan Allah memiliki rencana yang jauh lebih besar untuk dikerjakan melalui dirinya. Allah akan membuatnya menjadi terang bagi bangsa-bangsa. (ay.6) Sementara hamba itu berpikir bahwa membimbing satu bangsa di jalan TUHAN sudah merupakan pekerjaan yang amat besar, justru bagi Allah itu masih terlalu kecil. Allah tidak hanya membuatnya menjadi terang bagi orang Israel saja melainkan untuk bangsa-bangsa. Dia akan menjadi terang yang menuntun banyak bangsa datang kepada Allah dan beroleh keselamatan. Inilah Allah yang dinyatakan kepada kita saat ini. Nats ini kiranya dapat menyegarkan kembali kekuatan kita untuk lebih optimis dan dinamis menjalani kehidupan kita tahun 2017 ini. Buanglah sikap pesimistis dan apatis karena hal itu tidak pantas bagi umat Allah. Selain itu janganlah cepat berpuas diri atas pencapaian yang sudah diraih, lalu menganggap sudah tiba pada puncak tertinggi. Umat Allah tidak boleh hidup dalam sikap status quo atau tinggal dalam zona amannya sendiri. Cara berpikir dan sikap hidup seperti inilah yang hendak dibongkar oleh Firman Tuhan hari ini. Manusia berpikir, “ini sudah terlalu besar,’ tapi Allah berkata, “itu masih terlalu kecil.” Allah kita sangat Besar maka rencanakan, harapkan, pikirkan dan lakukanlah juga yang Besar. Tapi ingat, jangan lakukan dengan mengandalkan kekuatanmu sendiri, tapi serahkanlah hidupmu sepenuhnya di tangan Allah. Lakukan itu dengan doa setiap hari. Kita adalah orang-orang biasa tetapi ketika berada di tangan Allah kita akan menjadi seperti; pedang yang tajam atau panah yang runcing. Kita akan menjadi orang-orang yang luar biasa ketika menyerahkan hidup kita dipakai oleh Allah. Hal itu telah dialami oleh Petrus; dari penjala ikan telah dipakai Tuhan menjadi penjala manusia. Paulus; dari penganiaya telah menjadi pembangun jemaat. Hal yang sama dapat terjadi pada kita. Berilah dirimu dipakai oleh Tuhan, maka engkau akan melihat betapa besarnya Allah kita. Amin

Friday, November 11, 2016

ANGKUP NI I, SAROHA MA HAMU SALUHUTNA, SAPANGKILALAAN ANGKA NA MARHALOLONG NI ROHA DI DONGAN,NA MARASI NI ROHA NA SEREP 1 PETRUS 3 : 8

ANGKUP NI I, SAROHA MA HAMU SALUHUTNA, SAPANGKILALAAN
ANGKA NA MARHALOLONG NI ROHA DI DONGAN,NA MARASI NI ROHA NA SEREP
1 PETRUS 3 : 8
“Alai jolma parbagasan na buni na tongtong martondi na lambok jala na dame,
 i do na arga dietong Debata” ayat 4

Adong do 3 unsur dibagasan hadirion ni jolma na marpardomuan di ngoluna, naparjolo “Roha”, paduahon “Pikiran” na patoluhon “Pambahenan”.
Di hata Inggris didokma 3 H ima Heart (Roha), Head (Pikiran), Hand (Pambahenan).
Molo 3 H nasai pinasitta ni hita Batak secara lahiriah (pardagingon) ima Hagabeon, Hamoraon, Hasangapon, na so otomatis boi pasonang ngoluni jolmatungsura pe dapot na 3 H on.

Parasingan ni “Roha“ dohot “Pikkiran” na jotjot do maralo (dang sai sadalan) roha dohot pikkiran ni jolma marhite pambahenanna,??Apakah pantas seseorang yang bersalah diberi pengampuan?? Pikiran mandok : “Tidak Pantas”. Mesti dihukum, alai roha na denggan mandok : “Bukan hanya pantas, tetapi itulah seharusnya”. Karena hati yang baik (Roha na denggan) selalu ada kasih sayang. Justru sude do jolma butuh akan kasih sayang.

Sabutulna : Molo naeng manangkas i kualitas pribadi ni sahalak jolma, “pita alat pengukur” mestinya diletakkan disekitar hatinya (rohana dang di uluna manang pikkiranna). Contoh : Rockteller mengatakan : Saya sudah mempunyai jutaan dollar uangtetapi saya tidak bahagia karenanya, Jika sesorang tidak puas dengan jumlah kecil ia tidak akan puas dengan jumlah yang besar. Dan jika seseorang tidak murah hati ketika memiliki sedikit, ia takkan berubah tiba-tiba ketika ia menjadi kaya raya.
Na tangkas na ta adopi sonari di ngolu ta,na patubu parungkilon di tonga tonga ni masyarakat nang keluarga sandiri ima “krisis hati’ manang roha, ima kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkoba, begal, perampokan, pembunuhan, kekerasan dalam Rumah tangga (KDRT), angka sundut naposo nunga hurang pasangappon natua-tua. Songoni ma jolma saleleng sai humodang dirajai pikkiranna alai hurang mangarajai rohana (panggora ni rohana).
                                      
Poda 3 : Sian saluhut sijaga on , jagama roham ai siani do haruar akka mual hangoluan.
Peranan dohot hasurungan ni roha sian angka panca indra na adong di jolma, antara lain :
Mata dapat melihat tetapi tidak dapat mendengar dan berbicara; telinga dapat mendengar tetapi tidak bisa berbicara dan melihat; mulut dapat berbicara tetapi tidak bisa melihat dan mendengar.
HATI (ROHA) DAPAT MELIHAT;DAPAT MENDENGAR; DAPAT BERBICARA;DAPAT BERBUAT; PEPATAH BATAK MANDOK : “DANG DIIDA MATA ALAI DIIDA ROHA”.

Turpukta on mandok, angkup ni i saroha ma hamu saluhutna, sapakkilalalaan angka na marholong ni roha di dongan, namar asini roha na serep alai jolma parbagasan na buni na tongtong martondi na lambok jala na dame, ido na arga di etong Debata.AMEN.

Thursday, September 1, 2016

ENGKAU ITU SIAPA????

Engkau itu siapa??Pertanyaan itu sering menjadi bahas refleksi 
bagi kita, tapi sejatinya apakah kita sudah mengenal diri kita 
secara pribadi,sehingga ketika kita mengenal diri kita bagaimana
reaksi yang kita lakukan dalam interaksi kita sehari-hari 
terhadap dunia sekitar????atau dengan kata sederhananya 
bagaimana kita bersikap??

Berikut ilustrasi yang ditulis oleh Anthony de Mello, yang 
mungkin bisa jadi bahan refleksi kita bersama :


Wanita  dalam  sakratulmaut menghadapi ajalnya. Ia tiba-tiba
merasa, bahwa ia dibawa ke surga dan berdiri di muka  Takhta
Pengadilan.
 
"Siapa  engkau  itu?"  kata  suara kepadanya. "Aku ini istri
lurah," jawabnya. "Aku tidak bertanya kepadamu, engkau istri
siapa,  tetapi  engkau  itu siapa?" "Aku ini ibu empat orang
anak." "Aku tidak  bertanya,  engkau  ibunya  siapa,  tetapi
siapa  engkau  itu?"  "Aku  ini guru di sekolah." "Aku tidak
menanyakan pekerjaanmu, tetapi siapa engkau itu."
 
Dan demikianlah seterusnya. Tidak peduli  apa  yang  menjadi
jawabannya,   rupanya   itu  bukan  jawaban  yang  memuaskan
terhadap pertanyaan: "Engkau itu siapa?"
 
"Aku ini seorang Kristen." "Aku  tidak  menanyakan  agamamu,
tetapi engkau itu siapa." "Aku ini seseorang, yang tiap hari
pergi ke gereja dan selalu membantu orang miskin  dan  orang
dalam  kesulitan." "Aku tidak menanyakan perbuatanmu, tetapi
siapa engkau itu."
 
Ia jelas gagal dalam  ujian,  oleh  karena  itu  ia  dikirim
kembali ke  dunia.    Ketika sembuh dari sakitnya ia berniat
menemukan siapa  dia.  Dan  itulah  yang  membuat  segalanya
berbeda sama sekali.
 
Tugasmu itu  berada.    Tidak  menjadi  seseorang atau bukan
apa-apa - sebab disitu ada keserakahan dan  ambisi  -  tidak
menjadi  ini  dan itu; - dengan demikian menjadi bersyarat -
tetapi hanya ada saja.
 
                   (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

HEMPASKAN

terperangkap dalam sedih
sunyi hening dalam kalbu
merintih dalam kesunyian

ingin menjerit
teriakkan yang tak bersuara
ingin menangis
tanpa air mata
mengungkap rasa
ntah dengan siapa

Medan,01-Sep-16

Friday, April 15, 2016

Let It Be - The Beatles LIRIK LAGU



When I find myself in times of trouble
Kala kudapati diriku dalam kesulitan

Mother Mary comes to me
Bunda Maria datang padaku

Speaking words of wisdom, let it be
Ucapkan kata-kata bijak, biarlah

And in my hour of darkness
Dan di saat-saat gelapku

She is standing right in front of me
Dia berdiri di hadapanku

Speaking words of wisdom, let it be
Ucapkan kata-kata bijak, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Whisper words of wisdom, let it be
Bisikkan kata-kata bijak, biarlah

And when the broken hearted people
Dan ketika orang-orang yang patah hati

Living in the world agree
Yang hidup di dunia ini bersepakat

There will be an answer, let it be
Kan ada jawaban, biarlah

For though they may be parted
Karena meski mereka mungkin berpisah

There is still a chance that they will see
Tetap ada kesempatan mereka kan bersua

There will be an answer, let it be
Kan ada jawaban, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Yeah there will be an answer, let it be
Yeah kan ada jawaban, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Whisper words of wisdom, let it be
Bisikkan kata-kata bijak, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Ah let it be, yeah let it be
Ah biarlah, yeah biarlah

Whisper words of wisdom, let it be
Bisikkan kata-kata bijak, biarlah

And when the night is cloudy
Dan saat malam berselimut awan

There is still a light that shines on me
Masih kan ada satu cahaya yang menyinariku

Shine on until tomorrow, let it be
Terus bersinar hingga esok, biarlah

I wake up to the sound of music
Aku terbangun karena suara musik

Mother Mary comes to me
Bunda Maria datang padaku

Speaking words of wisdom, let it be
Ucapkan kata-kata bijak, biarlah

Yeah let it be, let it be
Yeah biarlah, biarlah

Let it be, yeah let it be
Biarlah, yeah biarlah

Oh there will be an answer, let it be
Oh kan ada jawaban, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Let it be, yeah let it be
Biarlah, yeah biarlah

Oh there will be an answer, let it be
Oh kan ada jawaban, biarlah

Let it be, let it be
Biarlah, biarlah

Ah let it be, yeah let it be
Ah biarlah, yeah biarlah

Whisper words of wisdom, let it be 
Bisikkan kata-kata bijak, biarlah

LIRIK LAGU MY WAY FRANK SINATRA DAN TERJEMAHANNYA

And now the end is near
(dan kini sebuah akhir akan kujelang)
And so I face the final curtain
(maka aku menghadapi penuntasan terakhir)
My friend, I’ll say it clear
(sahabat, aku akan mengatakannya dengan jelas)
I’ll state my case of which I’m certain
(aku akan menyatakan hal yang kuyakini)
I’ve lived a life that’s full
(aku memiliki kehidupan yang penuh)
I’ve travelled each and every highway
(aku telah menjelajahi setiap dan seluruh jalan besar)
and more, much more than this
(dan lagi, lebih dari itu)
I did it my way
(aku melakukannya dengan caraku sendiri)
Regrets I’ve had a few
(aku memiliki secuil penyesalan)
But then again too few to mention
(tapi kemudian memang terlalu sedikit untuk disebutkan)
I did what I had to do
(aku melakukan apa yang harus kulakukan)
And saw it through without exemption
(dan menyelesaikannya tanpa ada yang tersisa)
I planned each chartered course
(aku telah merencanakan setiap detail perjalanan)
Each careful step along the by-way
(berhati-hati melangkah menelusuri jalan-jalan sempit)
And more, much more than this
(dan lagi, lebih dari itu)
I did it my way
(aku melakukannya dengan caraku sendiri)
Yes, there were times
(ya, memang ada saatnya)
I’m sure you knew
(aku yakin kautahu)
When I bit off more than I could chew
(kala aku menggigit lebih dari apa yang dapat kukunyah),
But through it all when there was doubt
(menjalani semuanya saat ada keraguan),
I ate it up and spit it out
(aku menghabiskannya dan meludahkannya),
I faced it all
(aku menghadapi semua itu)
And I stood tall
(dan aku berdiri tegak)
And did it my way
(dan melakukan semuanya dengan caraku sendiri)
I’ve loved, I’ve laughed, and cried
(Aku telah mencintai, tertawa, dan menangis)
I’ve had my fill, my share of losing
(aku telah menikmati sepuasnya kehilangan akan segala-galanya)
And now, as tears subside
(dan kini saat air mata telah surut)
I find it all so amusing
(aku mendapati semuanya sangat menggelikan)
To think I did all that
(untuk berpikir bahwa aku telah melakukan semua itu)
And may I say, not in a shy way
(dan bolehkah aku berkata, tanpa malu-malu)
“Oh no, oh no, not me
(“o tidak, o tidak, bukan aku)
I did it my way”
(aku melakukannya dengan caraku sendiri”)
For what is a man, what has he got?
(sebab apakah arti seorang manusia, apakah yang telah dimilikinya?)
If not himself then he has naught
(jika bukan dirinya sendiri maka tak ada lagi yang dimilikinya)
To say the things he truly feels
(mengungkapkan apa yang benar-benar dirasakannya)
And not the words of one who kneels
(dan bukan sekedar kata-kata permohonan yang diucapkan saat bersujud)
The record shows I took the blows
(rekaman itu menunjukkan aku telah menerima pukulan dan tamparan sekaligus)
And did it my way
(dan menjalaninya dengan caraku sendiri)
Yes, it was my way
(ya, begitulah jalanku)